Lindie Tangkilisan

Penulis

Lindie Tangkilisan

Penulis : Alvin Ratag


Fear of God, Takut akan Tuhan membuahkan banyak berkat

Lindie Tangkilisan, lahir di Manado tanggal 18 Maret 1967. Ia adalah Sarjana Akuntansi, lulusan Perbanas dan Cal-State Long Beach dan Master Akuntansi juga dari universitas yang sama. Saat ini sedang dalam persiapan untuk mendapatkan Certified Public Accountant (CPA).

Merupakan anak ke-9 dari Sembilan bersaudara dari Ayah bernama: Frans Richard Tangkilisan dan Ibu bernama Emma Margaretha Mamesah. “Pendidikan sekolah adalah nilai hidup yang orang tua saya tanamkan semasa kami kecil. Kerja keras adalah juga nilai-nilai yang saya pelajari dari kedua orang tua saya,” kata Lindie. Pernah bersekolah selama 2 tahun di Sekolah Dasar PSKD Slamet Riyadi Jakarta (kelas 3-4 SD) dan sesudah itu Lindie menghabiskan masa kecilnya di Manado, kota asalnya.

Hobby beraktivitas di bidang olahraga dimulai waktu di SD kelas 6 saat mengikuti pertandingan tenis meja mewakili Sekolah Dasar Negeri II. Pada tahun  tahun 1980, saat di SMP (SMP Suster), sering mengikuti sepupu untuk melakukan aktifitas olah raga selam di pantai Kalasey, Tasik Ria, Siladen dan Bunaken, kemudian  pada tahun 1981 sempat menjadi salah satu Atlit termuda dari team atlit ski air yang mewakili Sulawesi Utara untuk PON ke IX di Jakarta, dan  mengikuti Kejurnas setiap tahun sampai dengan tahun 1985.  “Olah raga lain yang saya senangi pada saat saya di SMP dan SMA adalah renang, wind surfing, volley, dan tenis meja,” kata Lindie.

Setelah tamat dari SMA Don Bosco tahun 1985, sempat menjadi Mahasiswi Unklab jurusan akuntansi selama satu semester, dan setelah itu Lindie memutuskan untuk cuti akademik selama 1 semester untuk menjaga ayahnya yang sedang sakit di Jakarta. “Sebuah keputusan yang tidak pernah saya sesali. Beliau meninggal di bulan Desember 1986 . Pada saat itu umur saya baru 19 tahun,” katanya mengenang.

Tahun 1986 Lindie masuk Perbanas untuk kelas kelas sore. Tahun 1988, sambil  bersekolah disore hari ia bekerja full time disiang hari sebagai Internal Auditor dari salah satu group perusahaan besar di Jakarta, dan pada saat yang sama ia juga bekerja part-time sebagai Akuntan perusahaan asing dari Cyprus.

Tahun 1990 setelah tamat dari Perbanas, ia berangkat ke Amerika satu minggu setelah di wisuda yaitu pada akhir bulan Februari 1991. Melanglang buana di negeri orang tidaklah gampang. “Apalagi pada saat itu saya tidak punya kontak saudara ataupun teman, kecuali satu keluarga Amerika yang saya kenal melalui teman gereja. Tinggal bersama dengan keluarga Amerika tersebut mengharuskan saya untuk berbahasa Inggris setiap hari. Selama berbulan-bulan saya tidak bisa memakai bahasa Indonesia, karena saya belum bertemu dengan satupun orang Indonesia,” katanya mengenang.

Waktu pun berlalu, pada tahun yang sama Lindie bertemu David Pawlan, Mahasiswa tingkat akhir di Cal-State Long Beach. Ia dilamar pada tahun yang sama, pesta perkawinannya diadakan di 3 negara: Amerika, Jepang, dan Indonesia (Manado).  Perkawinan membuahkan anak pertama, yang lahir di Jakarta, bulan November 1994 bernama: Masana Tumilaar Pawlan, yang merupakan anak satu-satunya dari perkawinan pertamanya yang gagal di tahun 1997. Anaknya, tidak begitu tertarik dengan aktivitas olahraga tapi malah Pakar di bidang software game programming, matematika, dan robotics dan saat ini sedang menempuh studi di tingkat perguruan tinggi. Sebagai Game Developer dan Progammer, Masana sering menjadi juara dalam pertandingan di tingkat national Game Programmer, salah satunya adalah ‘Hackaton’ se California pada bulan Februari 2014.

Tahun 1993 Lindie menjadi Finance Manager termuda pada perusahaan konsolidasi Amerika di Jakarta. Karirnya diikuti dengan menjadi Manager di perusahaan-perusahaan asing seperti: RBK-Reebok, American Embassy Club, dan Noble Investment New Jersey di  Jakarta.

Pada tahun 2000 Lindie bertemu calon suaminya yang kedua, Jeff Sayman, di Grace Bible Church, Anaheim, California. Tanggal 29 Juli 2003, ia menikah dengan acara yang sangat sederhana. Jeff adalah Manager diperusahaan Southern California Edison, Irwindale Facility. “Jeff adalah orang yang sangat sederhana, pekerja keras, dan baik hati. Jeff adalah partner saya bermain tennis, maraton dan juga hiking,” kata Lindie.

Saat ini, selain mengurus rumah tangga dan sekolah full time, Lindie mempunyai bisnis Finance, Accounting dan pajak yang dikerjakan dari rumah. “Clients saya batasi hanya beberapa saja mengingat waktu saya yang terbatas. Rencana jangka panjang saya adalah termasuk mengembangkan bisnis yang sudah saya jalani sekarang ini di bidang Konsultan Finance, Accounting dan Pajak.  Perpajakan adalah hal yang sangat penting di Negara Amerika. Apabila ada waktu, saya senang jalan-jalan keliling dunia dan juga jalan-jalan di mall, belanja.  Kegiatan organisasi saya disini lebih banyak berhubungan dengan anak-anak dan remaja, maklum karena saya mempunyai anak yang sudah dewasa,” kata Lindie yang semasa muda juga aktif di sebuah club Soft Ball di Manado yang sering mengikuti dan menjuarai berbagai pertandingan di Manado.

Diluar pekerjaan sebagai seorang Akuntan, Lindie juga terlibat aktif di beberapa organisasi, yaitu:  sebagai Member of the UNICEF Long Beach Chapter, Youth Leader Grace Bible Church Anaheim, Chair Person of School Site Council, member of IVC Debate Team (yang ini, mewakili team debat sekolah) dan yang terakhir sebagai agent yang mengatur pengurusan laporan ke State of California dari organisasi BPP Kawanua Sedunia,Inc. Saat ini mencoba berbisnis di Indonesia. Ia hampir rutin bolak-balik Indonesia- Amerika, untuk sebuah bisnis Batubara yang sementara ia rintis bersama beberapa teman.

Saat menjadi Atlit Base Ball N33UQ

Saat berada di Arizona

Masana, sang anak semata wayang

Profil Berkaitan

Bagikan ke

Komentari


Semua komentar yang diberikan merupakan tanggungjawab dari pemberi komentar. Penulis berhak mengedit atau tidak menampilkan isi komentar yang dianggap tidak perlu atau memiliki unsur SARA ataupun merugikan pihak lain.

All comments given the responsibility of the poster's comments. The author reserves the right to edit or display the content of comments deemed unnecessary or has an element of racial or harm others.



+ 9 = 15

Didukung Oleh: